Empat Bulan Bersamamu


Empat bulan setelah kehadiranmu

Adalah suatu keberkahan

Menjadikan hariku lebih berarti

Air mata dan tawaku

Adalah dirimu

 

Warna warni hidupku

Yang pernah hilang bersama lengkung pelangi di sore itu

Kini telah kembali dengan warna yang lebih banyak

Lebih dari sekedar warna pelangi

 

Kau…

Menjadi titik awal hidupku kembali

Menjadi pelabuhan tujuan perahu hidupku

Sayangku…

Permata hatiku

Aku akan selalu ada untukmu

 

(This poem just for you arfan my son)

 

 

Iklan
Published in: on Mei 25, 2016 at 4:29 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Bisakah Kalian Mengerti?


Mengertilah akan diriku
Walau hanya sekali dalam hidup kalian

Telah kulewati lowong masa gelap
Yang hanya berisi kehampaan
Tanpa cahaya, udara ataupun asa

Aku telah korbankan segalanya
Dalam kepolosan telah hilang harga diri
Dalam ketidak berdayaan telah kuperjuangkan
Agar aku tetap berdiri dan berjalan
Melewati lorong gelap itu

Atas segala hal yang telah aku lakukan
Hingga peluh dan air mata tanpa beda
Tercurah saling melengkapi
Dalam perjalanan ini telah kulakukan yang terbaik
Hingga loyalitas yang kalian minta

Tetapi..
Atas semua hal tetap saja,
aku bukan apa-apa

Kau…kalian…semua…
Tetap saja mengatakan
Aku adalah pecundang
Yang hidupnya tanpa manfaat
Bahkan babi pun ada manfaatnya

Dalam ujung lorong yang tak kunjung bercahaya
Kutanyakan pada kebisuan
Apakah aku tak memiliki hak
Setidaknya untuk mengatakan “betapa bahagia diriku”
Meski dalam ironi kata-kata terdengar miris
Hidupku penuh kebahagiaan, kulalui semua dera cerca

Mengertilah akan diriku
Aku hanya ingin bahagia
Sekali saja dalam hidupku
Bahagia yang sebenarnya

Published in: on Maret 19, 2015 at 5:44 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

Menjenguk Hati


Menemui hatiku yang sudah lama tidak ingin kutemui
Menjenguk lukanya
Berharap ia sudah kembali membaik

Kuperiksa setiap sudutnya
Ternyata luka itu masih basah
Tersayat dan berdarah
Seakan bukan luka yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu

Perlahan kubuka selaput tipis yang membungkus
Seolah menutupi luka sehingga tampak sembuh
Padahal luka itu masih saja basah
Dan aku tetap saja melihat dirimu di sana
Bukan..bukan saja dirimu
Tetapi ada kita di sana
Lengkap dengan segudang kenangan
Seolah ingin berkata “apakah kau merindukan kami?”

Mengapa?
Setelah sekian lama
Kau…Kita..tetap di sana
Setelah lama tak kuhiraukan
Luka ini ternyata tetap menganga
Dan selaput yang menutupinya hanya fatamorgana
Kesembuhannya hanya dusta

Lalu hatiku tertunduk menangis
Menahan sakit sepeninggal ku jenguk
Dan aku kembali pergi
Berharap ia telah benar-benar sembuh ketika aku kembali melihatnya

Published in: on Februari 20, 2015 at 10:00 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: ,

Kisah Dua Januari


Pagi ini ingatanku berkelana
melayang ke antah barantah
Sebelas tahun yang lalu
Tepat ditanggal ini
Pada sofa coklat kita duduk berdua
Lalu kau mulai berkata
Ingin mengakhiri hubungan kita sebagai sahabat
Dan memulai hari untuk mencinta

Tepat di tanggal ini
Dimulai perhitungan waktu kita
Melalui berbagai lukisan kenangan
Yang dibingkai dengan teramat indah
Menenggak anggur cinta yang memabukkan
Menantang dunia yang tak urung menentang kita

Tiba-tiba lukisan kita mulai menghitam
Saat kau pergi mengejar mimpi
Yang kau kata takkan mungkin kau kejar lagi jika kita sudah
mengikatkan diri kita berdua
Dan kau katakan tujuanmu untuk
menyiapkan kanvas indah masa depan kita

Tiga tahun yang lalu
Saat keletihan pada ketidak pastian
Saat kau berubah jauh dari dirimu
Saat kesempatan itu kau buang jauh
Dan mengatakan ketidak siapan mu
Akankah langkah hidupku terhenti di sini?
Setelah aku hentikan sekian lama

Sebelas tahun yang lalu
Tepat di hari ini
Kau ciptakan cinta dan benci
Dan aku telah berjalan menjauh
Sama seperti yang kau lakukan
Dengan membawa serta lukisan kenangan kita pada tas koperku
Dan membawa lukisan luka darimu
Pada seluruh hidupku

(2 jan 2015)

Published in: on Januari 2, 2015 at 3:01 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

Selamat Jalan Uti


Masih terekam dengan jelas awal kali kita bertemu

Senyum indah yang merekah menyambutku di rumahmu

Sesosok wanita tua yang penuh kelembutan

Dengan tertatih membawa sandaran jalan yang terbuat dari stainless

Membuka gerbang pintu pagar rumah

Saat itu aku sudah mulai mencintaimu

Rambutmu yang mulai memutih,

Kulitmu yang mulai mengendur

Tak mengurangi gurat kecantikanmu yang dulu pernah menghiasi parasmu

Berada di dekatmu, bercerita dan bercengkrama

Adalah saat yang sangat aku tunggu

Uti, biasa kau disapa

Mengartikan eyang putri

Karenamu aku merasa hatiku begitu hangat

Kau juga adalah alasanku seolah kaki ini malas untuk melangkah pulang dari rumahmu

Saat itu aku masih menjadi kekasih cucumu

Tetapi yang selalu aku tanyakan pada dia adalah kabarmu

Uti, saat aku tak lagi menjadi kekasih cucumu

Aku sangat rindu dan ingin menemuimu

Saat aku merasa rapuh, aku ingin bersandar

Aku ingin mendengarmu bercerita

Tetapi aku tak lagi bisa

Kini,

3 November 2014 bertepatan dengan 10 Muharam 1435 H

Aku tak pernah lagi bisa menemuimu

Terpendam rindu yang sangat padamu

Terpendam cinta untukmu

Anggaplah akupun cucumu, uti

Hanya untaian kalimat doa yang dapat kukirimkan untukmu

Dalam linangan sungai air mata

Bukan buah ataupun makanan yang kubawa jika kau sakit

Sebuah harapan agar Tuhan menyayangimu di syurga

Seperti kami semua yang menyayangimu saat kau di dunia

Selamat jalan uti

Eyang Putriku tersayang

(Kamis, 061114)

Published in: on November 6, 2014 at 5:09 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

Pergumulan Hati


Aaaaaaargh….!
Praaaaaang….!
Duk duk buk buk!

Titik ini sudah semakin membesar
Jengah lelah marah
Bercampur baur seakan berebut mengisi hati
Seperti rakyat yang berebut ransum
Air matapun sudah enggan menampilkan wujudnya
Entah malu atau sudah kehilangan alasan untuk tampil
Dan kebencian yang absurdpun kian nyata

Tamparlah mereka!
Atau kalian tampar aku!
Lalu caci lah sehinanya
Sebelum akalku menghitam, melupakan bahwa aku manusia
Hingga ku cincang kalian semua
Agar terpuaskan rasa sakit ini

Aaaaargh..!
Jika saja dapat ku lemparkan suaraku
Lepas dengan liar di bawa udara
Tanpa ada yang sok perduli
Agar lapang kembali dada yang telah sesak
Tetapi…
Titik ini sudah semakin membesar
Jengah lelah marah bergumul riang

Aku,
Terdiam…
Dalam rasa itu

Published in: on Agustus 13, 2014 at 3:19 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

Terjebak


Aku bagai terjebak dalam lumpur hisap
Yang perlahan menghisap dengan hebat
Setelah dengan sadar aku terjatuh
Dalam lubang ini

Aku melihat burung-burung dari tempat yang menahanku
Mereka berlompatan menari bebas
Seolah mengejek dan menertawaiku
Dan mengataiku “wahai manusia, apa yang kau lakukan di dalam sana?”
“Tak tahukah dirimu, bahwa telah banyak ular di dalam sana?”
Kemudian ia terbang meninggalkanku

Lumpur ini semakin menghisap
Meremukkan tulang perlahan namun pasti
Dan ular yang ada di dalamnya mulai melilit
Aku makin terjebak

Inilah tempatku kini
Dan hatiku bertanya,
Akankah aku harus mati hanya karena ini?
Akankah bantuan segera menghampiri?
Sedang aku yakin Tuhan tidak pernah buta

(190714)

Published in: on Juli 19, 2014 at 12:12 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

Segurat Pelangi


Ada badai berkecamuk
Mengamuk mengaduk-aduk
Sebuah petir menggelegar menyambar
Membuatku berdiri tanpa kata

Sebuah badai besar menghalangi langkahku
Mematikan tapak-tapak kaki
Hingga tak mampu melukiskan jejak

Badai ini menerpa tiba-tiba
Meneteskan air hujan yang deras
Membasahi pipi hingga hati

Badai ini seperti tidak mau pergi
Datang bertubi setiap kali
Aku…hanya mengharapkan
Adanya segurat pelangi

(180714)

Published in: on Juli 18, 2014 at 5:21 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , , ,

Mengapa Bangga Dijajah?


Tempatku mengais rezeki telah dibeli sahamnya 51% oleh Jepang

Otomatis Nippon-nippon itu merajai walau hanya karena berbeda 1%

dibanding pewaris negeri yang katanya merupakan strategi

menggemakan nama tanah air di negara si Nippon

 

Lalu mulailah dibentuk roti sandwich lezat ala nippon

Nippon-nippon itu menyundul dari bawah dan memencet dari atas

dan anak negeri tinggallah menjadi kacung di tanah sendiri

Para nippon menduduki posisi strategis

Para pribumi tetap menjadi pengais

Pembesar mantan penguasa lama diadu dengan buruhnya

dinaikkan upah yang sebenarnya masih jauh lebih kecil

dibanding kekayaan nippon dari keringat dan darah anak bangsa

 

Apakah sang anak bangsa merasa marah kawan?

Tidak!!

Justru anak bangsa merasa bangga

Bekerja dengan orang asing yang cerdas dan kaya

karena pengusaha pribumi terkenal kekikirannya

Walau harus dijajah tanpa daya

 

Lalu..Mengapa bisa bangga?

Saat ditanya bekerja untuk siapa

Jika bercerita bekerja dengan siapa

Padahal nippon menjajah dan merajalela

Tetapi itulah potret bangsa

 

Tempatku mengais rezeki adalah satu diantara berjuta tempat

yang digadai ke para menir, nippon ataupun asing

Aku adalah salah satunya

Yang dijajah dengan perasaan bangga

Meskipun tak jarang hati bertanya

“Mengapa saat sekarang kita harus bangga dijajah?”

Kemudian…Apalah arti Proklamasi yang katanya merupakah sertifikat tanda merdeka?

(Renungan 22 November 2013)

Published in: on November 22, 2013 at 4:29 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,

Forgive and Forget


Just like the rain
Makes world forget with sun
Forgiving hot weather

Just like the night
Makes people forget with their ambition
Forgiving live with their sweet dream

Just like the child
Forgetting hurt every they fall in
Forgiving and laugh loudly

Just like that honey
I will forget you
Every sweet time that we had had a long time ago
Cause now…
You already forgot me
I will forgive you
Every hurt that you had given to me a long time ago

I need die hard to do this
Because you have leaved deep scar in my heart
Because you have leaved so many memories
Because i loved you so much
Live must go on

Today..
I will forget you lil by lil
I will forgive you meu querido

Published in: on September 11, 2013 at 6:08 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: